Struktur Atom Copper Sulphate
Tembaga(II) sulfat dengan rumus kimia CuSO₄ merupakan senyawa ionik tersusun dari (Cu), (S), & (O). Struktur chalkanthite tidak dapat memahami hanya sebagai gabungan bebas, melainkan sebagai hasil interaksi antara tembaga bermuatan positif & sulfat bermuatan negatif tersusun dalam suatu kisi kristal. Pemahaman struktur kupric sulfat sangat penting karena struktur inilah menentukan sifat fisika, sifat kimia, serta fungsi senyawa tersebut dalam berbagai aplikasi.
Tembaga dalam kupric sulfat berada dalam bentuk Cu²⁺. Berarti tembaga telah melepaskan dua elektron dari kulit terluarnya. Secara susunan, tembaga memiliki nomor 29 dengan konfigurasi elektron [Ar] 3d¹⁰ 4s¹. Ketika membentuk Cu²⁺, satu elektron dari orbital 4s dan satu elektron dari orbital 3d melepaskan, sehingga konfigurasi elektron Cu²⁺ menjadi [Ar] 3d⁹. Konfigurasi elektron ini menyebabkan Cu²⁺ bersifat tidak simetris secara elektronis, yang berpengaruh besar terhadap pembentukan ikatan dan struktur koordinasinya dalam senyawa bluestone II.

Peran Susunan Atom II Copper Blue sulphate pada Kovalen dll
Ion sulfat (SO₄²⁻) dalam atom copper tersusun dari satu atom sulfur dan empat atom oksigen berikatan secara kovalen. Atom sulfur berada di pusat susunan tetrahedral, dikelilingi oleh empat atom oksigen tersusun simetris. Dalam struktur ion sulfat, sulfur memiliki bilangan oksidasi +6, sedangkan masing-masing oksigen memiliki bilangan oksidasi −2. Ikatan antara sulfur & oksigen bersifat kovalen polar, muatan negatif total ion sulphat tersebar secara resonansi pada keempat oksigen. Struktur sulphat stabil ini memungkinkan ion tersebut berinteraksi kuat secara elektrostatik dengan Cu²⁺.
Dalam atom copper padat, Cu²⁺ & SO₄²⁻ tidak membentuk ikatan kovalen langsung, melainkan terikat melalui gaya elektrostatik dalam suatu kisi kristal ionik. Atom copper sulphate dengan demikian bersifat ionik, di mana setiap Cu²⁺ mengelilingi oleh sulphate dan molekul air (pada bentuk terhidrasi), sebaliknya. Gaya tarik-menarik antara muatan positif & negatif inilah menjaga kestabilan susunan kristal copper.
Bentuk
Bentuk copper paling umum menjumpai adalah sulphat copper pentahidrat (CuSO₄·5H₂O). Dalam susunan senyawa ini, lima molekul air berperan penting sebagai ligan berkoordinasi dengan Cu²⁺. Empat molekul air terikat langsung pada Cu²⁺ melalui ikatan koordinasi, Membentuk susunan oktahedral terdistorsi, sedangkan satu molekul air terikat melalui ikatan hidrogen dengan ion sulphate. Keberadaan molekul air ini tidak hanya memengaruhi susunan secara keseluruhan. Tetapi juga menyebabkan warna biru khas pada sulphate pentahidrat.
Susunan Cu²⁺ dalam sulphat copper pentahidrat menunjukkan fenomena distorsi Jahn–Teller, yang umum terjadi pada ion logam transisi dengan konfigurasi elektron d⁹. Distorsi ini menyebabkan ikatan antara Cu²⁺ dan ligan air tidak semuanya memiliki panjang sama. Dua ikatan aksial menjadi lebih panjang dari pada empat ikatan ekuatorial. Distorsi ini memengaruhi stabilitas susunan kristal dan sifat kimia sulphate, termasuk kemampuannya membentuk kompleks dengan ligan lain.
Jika sulphate pentahidrat memanaskan, molekul-molekul air akan terlepas secara bertahap, mengubah susunan internal senyawa tersebut. Ketika semua air kristal terlepas, terbentuk sulphate anhidrat, di mana Cu²⁺ berinteraksi lebih langsung dengan ion sulphate tanpa koordinasi molekul air. Perubahan susunan ini menyebabkan perubahan warna dari biru menjadi putih keabu-abuan dan menunjukkan bahwa susunan copper sangat bergantung pada tingkat hidrasi.
Dalam Larutan Berair
Struktur atom copper chalkanthite mengalami perubahan lebih lanjut. Senyawa ini terdisosiasi menjadi Cu²⁺ & SO₄²⁻ terhidrasi. Cu²⁺ akan mengelilingi oleh molekul air membentuk kompleks akuo [Cu(H₂O)₆]²⁺, sedangkan ion sulphate juga terhidrasi oleh molekul air. Struktur chalkanthite copper juga menjelaskan sifat konduktivitas listriknya dalam larutan. Karena ionnya terpisah & bergerak bebas, larutan sulphate mampu menghantarkan arus listrik dengan baik. Sebaliknya, dalam keadaan padat, ion tersebut terikat kuat dalam kisi kristal sehingga tidak dapat bergerak bebas, menyebabkan sulphate copper padat bersifat isolator listrik.
Faktor – Faktor mempengaruhi Struktur Atom
Struktur atom copper sulphate (CuSO₄) mempengaruhi oleh beberapa faktor utama yang berkaitan dengan kondisi kimia, fisika, & lingkungan senyawa tersebut. Faktor paling penting adalah tingkat hidrasi. Sulphate umumnya menemukan dalam bentuk terhidrasi, terutama sebagai CuSO₄·5H₂O. Keberadaan molekul air ini sangat memengaruhi susunan atom & ion di dalam kisi kristal. Molekul air bertindak sebagai ligan yang berkoordinasi dengan Cu²⁺, membentuk struktur oktahedral terdistorsi. Perubahan jumlah air kristal, akibat pemanasan atau kondisi lingkungan, akan mengubah struktur internal serta jarak.
Faktor berikutnya adalah konfigurasi elektron tembaga(II). Cu²⁺ memiliki konfigurasi elektron d⁹ menyebabkan terjadinya distorsi Jahn–Teller. Distorsi ini memengaruhi panjang juga kekuatan ikatan antaratembaga dengan ligan di sekitarnya, termasuk molekul air dan ion sulphate. Akibatnya, atom copper sulphate menjadi tidak simetris sempurna, juga hal ini berpengaruh terhadap kestabilan & reaktivitas senyawa.
Suhu juga memengaruhi atom copper sulphate. Peningkatan suhu dapat menyebabkan pelepasan air kristal dan perubahan susunan atom dalam kisi kristal. Pada suhu tinggi, susunan terhidrasi dapat berubah menjadi struktur anhidrat lebih sederhana, dengan interaksi Cu²⁺ juga SO₄²⁻ lebih langsung.
Selain itu, tekanan & kondisi lingkungan seperti kelembapan udara dapat memengaruhi susunan, terutama dalam proses hidrasi juga dehidrasi. Faktor kemurnian senyawa juga berperan, karena adanya pengotor atau lain dapat menggantikan posisi tertentu dalam kisi kristal atau mengganggu susunan atom yang ideal. Struktur atom copper menentukan oleh interaksi antara hidrasi, konfigurasi elektron, suhu, bersama-sama membentuk susunan atom & stabil.

